tentang pesawat
Thursday, March 8th, 2007“Garuda Indonesia tipe boeing 737-400 dengan nomor penerbangan GA-200 tujuan Yogyakarta terbakar sesaat setelah mengalami hard landing di bandara Adisutjipto jogjakarta pukul 7.05WIB”.
Itu adalah kutipan breaking news yang dibacakan oleh anchorman RCTI Aiman Witjaksono tadi pagi (7 maret 2007) sekitar jam 7:30WIB atau tepatnya 25 menit setelah kejadian.
Again? Deui? Another plane crashed? Masih terbayang beberapa hari yang lalu bentuk melengkungnya Adam Air setelah juga mengalami hard landing di bandara juanda surabaya.
Dan kali ini adalah Garuda Indonesia, sebuah maskapai flag carrier Indonesia yang sangat dipercaya oleh banyak kalangan, terutama oleh orang-orang yang berdompet tebal.
Banyak orang yang ngomong tiap kali terjadi dialog:
Orang: “mau kemana?”
Saya: “mau ke kota anu”
Orang: “ naek apa?”
Saya: “(jawaban bisa bervariasi antara: adam air, mandala, batavia air, lion air, dll.)”
Orang: “ih, gak ngeri apa? Ntar jatoh lo..”
Trus pas tiba kembali di jakarta dengan selamat:
Orang: “wah selamet lu Han naek pesawat anu (tergantung pilihan yang diatas)”
Saya: “alhamdulillah..”
Dialog seperti itu sangat sering terjadi, karena sangat banyak orang yang beranggapan kalau naek garuda Indonesia itu aman dah.. hampir gak mungkin jatoh. Padahal menilik beberapa tahun kebelakang, sekitar tahun 1995an (sori kalo salah), sebuah pesawat boeing 737-300 milik garuda juga pernah jatuh di daerah sibolangit sumatra utara, beberapa saat sebelum mendarat di bandara polonia medan, yang menewaskan seluruh penumpangnya, kalau gak salah sih nabrak gunung gitu. Dan juga sebenernya sering pendaratan Garuda itu gak mulus, gak seperfect yang biasa dibayangkan.
Sedikit (sebenernya agak banyak sih) mereview, sekitar awal januari 2007 kemaren, saya sempet terkejut dan mengalami bulu kuduk yang berdiri alias merinding, ketika membaca sebuah berita di detik.com.
Ceritanya begini..
Waktu saya lagi asyik menikmati hotspot gratisnya FEUI di sebuah sudut gedung A, terus ngebuka salah satu website yang wajib dikunjungi tiap laptop ini terhubung dengan jaringan hotspot tersebut (halah.. bertele-tele amat yak..!!), yaitu www.detik.com.
Ada sebuah headline berita yang mengatakan bahwa: Adam Air PK-KKW masih belum ditemukan. Waktu itu emang hanya beberapa hari setelah sebuah pesawat adam air tujuan menado dinyatakan hilang. Sebenernya yang mengejutkan adalah kata PK-KKWnya.
Memang saya adalah seseorang yang super terobsesi dengan yang namanya pesawat terbang. Tiap naek pesawat, saya selalu minta seat yang window side, terus ngerekam proses take off dan landing pake kamera. Dan tidak lupa mengingat nomor registrasi pesawat yang dinaiki tersebut. Oia, ditambah dengan beberapa foto narsis diatas pesawat juga tentunya ;p
Selain itu, di komputer saya juga ada satu folder yang berisi foto-foto pesawat yang di grab dari berbagai website perkumpulan orang-orang seperti saya, diantaranya adalah www.indoflyer.net, www.airliners.net, www.jetphotos.net, dll, yang muatannya hampir 2GB. Begitu pula dengan yang ada di laptop, agak-agak makan memory sih.
Tunggu, tadi mau cerita apa ya?
Oia, dari kebiasaan itulah kata-kata PK-KKW itu menjadi sangat mengerikan. Masalahnya, dua hari setelah UAS semester pendek berakhir, tepatnya tanggal 5 Agustus 2006 yang lalu, pukul 18:30WIB (harusnya jam 17:30WIB, delay 1 jam euy..) saya, rama, kumkum, dan eko naek pesawat Adam Air tipe 737-400 dengan livery berwarna putih, dan nomor registrasi pesawat adalah.. PK-KKW, itu dari jakarta menuju denpasar dengan maksud untuk berlibur.
PK-KKW man..!!! berarti saya pernah naek pesawat yang sampe sekarang belum berhasil diangkat dari kedalaman 3000M dpl (d-nya dpl itu dibawah lho..bukan diatas). Tentu saja prosesi take off di soekarno hatta dan landing di ngurah rai direkam dong.. plus beberapa foto narsis di lavatory pesawat (beneran ;p) dan foto-foto 3 orang lainnya (yang kebanyakan lagi tidur, maklum, penerbangan agak malem).
Kalo menurut anda itu biasa aja, ya.. emang biasa aja sih, pastinya ribuan orang juga pernah naek pesawat itu, tapi mungkin hanya beberapa orang yang notice kalo pernah naek pesawat itu. Tapi serius lho, agak merinding ngebayangin..I’ve been there..
Gak kebayang kalo itu pesawat ilang pada saat kita naekin. Alhamdulillah kita berempat masih diberi kesempatan oleh Allah SWT. untuk melihat matahari terbit lagi (tepatnya sunrise di pantai sanur waktu itu, hehe).
Sedihnya pesawat itu ilang hanya beberapa hari sebelum saya sekeluarga berangkat ke bali (lagi) untuk liburan. Tiket udah dibeli, hotel dan mobil rental udah dibooking, mau diapain lagi dong.. gak mungkin dibatalin. Dan saya berangkat dengan hati yang agak degdegan juga sih..
Jujur deh, berangkat dengan keluarga itu agak-agak bikin parno super. Soalnya kalo jatoh, resiko keilangan sekeluarga jadi mungkin toh. Kalo pergi sendiri atau sama temen kan, kalo jatoh, ya.. mati sendiri aja. I love my family so much..better than anything on earth.
Alhamdulillah perjalanan pulang pergi lancar dan kita sekeluarga selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun sampe jakarta lagi. Eh.. sempet keilangan sih, ada satu kantong joger yang ketinggalan di taksi pas pulang, tapi berhasil dikembalikan ke pangkuan kami (???).
Tapi ceritanya belom berakhir sampai disitu..
Besoknya, ada berita di metro tv, kalo pesawat Mandala Air jenis airbus A320 dengan nomor registrasi PK-RMC gagal terbang dari bandara lupa. PK-RMC itu pesawat yang membawa saya sekeluarga kembali dari denpasar menuju jakarta.
Emang gak ada korban apa-apa sih, tapi alhamdulillah lagi kejadiannya gak menipa saya sekeluarga. Kenapa saya bisa tau no. registrasinya? Lihat beberapa paragraf diatas..
Oke, kembali ke paragraf pembuka, Garuda Indonesia terbakar..
Jadi, hikmah yang bisa kita ambil dari beberapa kejadian tersebut adalah: jangan terlalu apriori sama maskapai penerbangan swasta, dan jangan terlalu yakin dengan maintenance nya garuda, karena sebenernya ajal itu ada ditangan Allah SWT. Nyatanya garuda jatoh-jatoh juga kan? Gak terlalu beda ama yang lain.. gak jaminan.
Kalo emang punya duit lebih, ya.. it’s oke lah naek garuda, pun sebenernya selisih harga tiket (yang logikanya terkompensasi untuk makanan berat yang dikasih kalo kita naek garuda) gak worth it. Masa harga makanan sekotak gitu aja sampe 400ribuan (selisih harga tiket garuda dengan pesawat laen). Emang garuda lebih berasa lux nya sih, naek di terminal 2 (khusus untuk sukarno hatta), dapet koran (pun di mandala juga dapet), makanan berat, teh panas, permen, dan jarak antar kursi yang sedikiiiiiitttt lebih jauh. Dan buat sebagian orang, GENGSI.
Tapi ada lho orang yang rela merelakan tiket maskapai penerbangan swasta (yang sebelumnya dipesenin oleh orang lain) karena takut, trus beli tiket Garuda, trus tiket yang lama dibiarkan hangus. Ini terjadi sama salah satu rekannya kakak saya.. Kalo menurut saya sih agak-agak berlebihan ya.. sayang dong, mending disedekahin aja tu duit.
Trus, menurut saya, gak mungkin kalo maskapai swasta itu ngecut biaya maintenance supaya biaya tiket jadi lebih murah. Logika raisionalnya, kalo dia ngurangin maintenancenya, resikonya adalah kehilangan pesawat karena kecelakaan, memang pastinya dia udah ngasuransiin itu pesawat, tapi kalo emang terjadi kecelakaan, mereka kan harus ngebayar ganti rugi dan santunan buat keluarga korban, itu bukan biaya yang sedikit lho, ditambah biaya search and rescuenya, yang biasanya dibebankan ke maskapai yang bersangkutan, itu juga biaya yang sangat gede bukan..
Belom lagi dengan menghilangnya kepercayaan dari konsumen yang pasti akan signifikan mempengaruhi total pendapatannya. Dan parahnya, kalau terbukti dia tidak menjalankan prosedur pemeliharaan dan sebagainya yang violating the rule, resikonya adalah pencabutan izin terbang, klaim asuransi gak dipenuhi, dan hukum pidana yang berlaku.
Entah ya, tapi saya masih cukup yakin kalau para regulator dan manajemen dari maskapai swasta itu masih memiliki akal sehat dan hati nurani untuk memperhitungkan hal-hal seperti itu dan gak melulu ngejar yang namanya keuntungan.
Satu point penting, para pemilik dan pelaku maskapai penerbangan swasta itu juga mempergunakan fasilitas yang mereka miliki, artinya mereka dan keluarga meraka juga naek pesawat mereka juga. maksudnya keluarga manajemen –say maskapai C- kemana-mana juga naek pesawat C juga. Jadi, gak mungkin dong mereka mau membahayakan nyawa keluarga mereka sendiri..
Kembali ke hikmah..
Yang terbaik adalah yakinlah kalau nyawamu bisa meninggalkan jasadmu setiap saat, darat, lau, udara, di jalan, di rumah, dimanapun. Jadi tiap mau kemana-mana selalu berdoa dan dilakukan atas nama Tuhan YME alias bismillah. Dalam kasus ini, lebih baik setidaknya baca doa mau bepergian kalau mau naik pesawat, plus alfatihah, ayat kursi, dll lebih bagus. Karena gak jaminan tuh mau naek pesawat apapun, kalo emang udah ajal, ya mati mati juga kan? Berserah diri adalah yang terbaik, pun pesawatnya jatoh, tapi belom ajal, ya pasti selamet juga.
Btw, sori kalo tulisan ini agak kurang terstruktur..hehe. Bukan bermaksud melecehkan garuda lho, cuman hanya ingin membahas fakta dan meluruskan opini publik yang saya anggap tidak sepenuhnya bener. Kalo punya duit pun, saya juga tetep naek garuda kok, bukan berarti saya antipati sama garuda lho.. ini hanya pendapat yang tidak mutlak kebenarannya dari seorang yang tidak terlalu berlebih dalam hal kemampuan finansial untuk kemana-mana naek garuda seenak jidat dan orang yang sangat memperhitungkan cost and benefit atas segala sesuatunya a.k.a. pelit..